Opini : Politik di Tengah Wabah Covid-19

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Opini : Politik di Tengah Wabah Covid-19

SULSEL LIMA
Wednesday, 7 October 2020

Makassar, sulsellima.com - Merabahnya covid-19 yang mengancam perekonomian masyarakat Indonesia yang semakin menurun, sejak pemerintah mengeluarkan peraturan atau pemberlakuan bekerja dari rumah, belajar dari rumah,dan beribadah di rumah dan mengerjakan pekerjaan apa saja dari rumah yang membuat perekonomian masyarakat merosok atau menurun secara drastis sehingga perekonomian melemah.


Dampak dari merabahnya wabah covid-19 sangat dirasakan oleh berbagai Negara dan juga seluruh ummat manusia di berbagai penjuru dunia, mulai dari masyarakat, pemerintah, pedagang ,petani, karyawan, dll. 


Akibat penyebaran wabah yang menyebabkan menurunnya pendapatan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidupnya diluar rumah kini semakin melarat. 


Pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan diharapkan masyarakat mampu mematuhi peraturan tersebut, namun hal itu malah menambah keterpurukan masyarakat, karna banyak masyarakat yang dalam kegiatan sehari-hari hanya bergantung pada kegiatan usaha kecil seperti pedagang kaki lima, dimana mereka hanya menggantungkan hidup disitu, meskipun pemerintah telah memberikan atau menyalurkan bantuan kepada masyarakat, namun hal tersebut belum sepenuhnya menutupi kebutuhan mereka, disinilah dibutuhkan tanggung jawab pemerintah bagaimana menyikapi langkah-langkah apa yang perlu diterapkan ditengah-tengah pandemi ini.


Menurunnya harga barang dan meningkatnya keluhan masyarakat membuat perekonomian semakin menurun, misalnya harga pangan saat ini juga ikut anjlok akibat wabah covid-19. 


Akibatnya hampir di semua sektor mengalami dampak yang signifikan terutama di bidang pertanian, yang dimana akan berdampak pada ketahanan pangan karna sangat penting dan rentan bermasalah ditengah pandemi ini, kekhawatiran yang muncul saat ini mengenai kelangkaan bahan pangan tidak memudahkan petani sebagai penyandang pangan untuk masyarakat, dimana petanilah yang paling merasakan bagaimana anjloknya harga pangan, penurunan harga pangan yang membuat petani sangat resah, tidak hanya padi, hasil pertanian lainnya juga semakin merosot dimana petani kecil tidak memiliki akses pasar yang luas sehingga hasil pertaniannya hanya dijual dengan harga seadanya, disisi lain harga kebutuhan semakin meningkat termasuk harga bahan pertanian juga menambah beban petani, masyarakat yang tinggal di daerah pelosok hanya bisa pasrah menangani hal tersebut akibat adanya wabah covid-19.


Pemerintah yang paling merasakan dampak dari wabah covid-19 ini, Indonesia sebagai salah satu negara importir terbesar sangat merasakan bagaimana penurunan perekonomian semenjak adanya covid-19. 


Penurunan jumlah import barang membuat perekonomian Negara tengah di rundung masa krisis ekonomi yang akan berdampak besar bagi negara. Karena ada imbauan untuk penutupan tempat pariwisata, keramaian, hotel dan restoran. Dengan pola kebijakan Negara saat ini, akan berdampak kepada pendapatan daerah dan nilai tukar mata uang rupiah. Tidak hanya dari sektor impor barang, sektor pariwisata juga sangat merasakan hal tersebut. 


Indonesia telah dikenal sebagai negara yang kaya akan destinasi wisatanya. Sektor pariwisata yang merupakan penyumbang pendapatan negara yang besar. Sebagai contoh daerah Bulukumba yang terkenal dengan destinasi periwisata pantai-nya sangat merasakan dampak dari adanya pandemic covid-19.


Bagaimana tidak, semua objek wisata ditutup baik destinasi wisata pantai ataupun destinasi wisata lainnya. Hal ini dilakukan demi pemutusan rantai penyebaran virus corona. Sektor pariwisata sebagai penyumbang terbesar pendapatan daerah di Bulukumba saat ini tengah mengalami penurunan yang sangat besar. Tidak hanya dari sektor barang dan sektor pariwisata, dari sektor produksi juga sangat merasakan bagaimana melemahnya perekonomian ditengah wabah covid-19 yaitu melonjaknya permintaan produksi ditengah pandemik covid-19, namun bahan produksi dan biaya produksi yang menjadi masalah saat ini.Terlebih lagi tenaga produksi yang terbatas, tenaga produksi saat ini sangat terbatas semenjak virus covid-19 masuk ke Indonesia, banyaknya tenaga kerja yang di PHK akibat covid-19 sangat mempengaruhi kapasitas produksi saat ini.


Ditengah pandemic covid-19 saat ini, perekonomian Indonesia yang semakin merosot mengakibatkan pemerintah sangat berperan penting dalam menangani pandemic saat ini. Salah satu upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dalam hal ini pemerintah telah melakukan langkah-langkah Seperti pengadaan Bantuan BLT-Dana Desa (Bantuan Langsung Tunai) untuk disalurkan kemasyarakat yang kurang berpenghasilan yang mengalami dampak akibat adanya pemberlakuan PSBB (pembatasan sosial berskala besar). Namun realitanya bantuan dana tersebut tidak tersalurkan dengan baik, dimana dalam penyalurannya saat ini dimanfaatkan keberadaannya oleh oknum-oknum yang hanya memikirkan dirinya sendiri.


Saat ini dengan adanya bantuan pemerintah dapat membantu meringankan beban masyarakat dan bisa saling membantu, bukannya menambah kemelaratan orang lain, BLT-Dana Desa yang harusnya tersalurkan dengan baik kepada masyarakat namun tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 


Surat edaran dari Menteri Desa telah dijelaskan dengan sangat terperinci dan jelas mengenai BLT-Dana Desa ini. Namun ada saja segelintir orang-orang yang mengambil keuntungan dari BLT-Dana Desa, oknum-oknum seperti itu hanya memikirkan kepentingan atau keuntungan pribadi tanpa memikirkan bagaimana dampak dan nasib masyarakat yang tengah dirundung masalah ekonomi ditengah wabah covid-19.


Pandemi covid-19 saat ini, sebagian wakil rakyat tak memunculkan eksistensinya atau membantu masyarakat. Pertanyaan yang paling cocok dilontarkan, kemana para wakil rakyat? Yang katanya siap membantu rakyat. Masa kampanye memproklamirkan bahwa dirinya siap membantu rakyat tak memunculkan batang hidungnya saat masyarakat dalam kondisi yang melarat, yang harusnya mendapatkan bantuan dari wakil rakyat tapi nyatanya janji itu tak sesuai dengan harapan rakyat. Wakil rakyat yang harusnya terjun langsung membantu masyarakat pada masa pandemic saat ini, namun nyatanya sebagian dari mereka hanya bersembunyi didalam istana megahnya menikmati gaji yang tak sesuai dengan kinerja yang dilakukannya ditengah masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan banyak atau uluran tangan.


Apakah mereka hanya sebatas membutuhkan rakyat dan hadir ditengah rakyat ketika pesta demokrasi akan berlangsung? Hadir karena adanya kepentingan untuk diri sendiri, lalu menghilang ketika dibutuhkan oleh masyarakat.


Dibalik perlakuan wakil rakyat tersebut, tentunya kepercayaan masyarakat terhadap wakil rakyat sudah berkurang bahkan bisa saja sudah tidak ada lagi, tentu hal tersebut sangat mempengaruhi posisi kekuasaan wakil rakyat yang akan maju atau ikut mencalonkan dirinya pada saat pesta demokrasi selanjutnya, kepercayaan masyarakat sangat mempengaruhi peluang keberhasilan wakil rakyat yang akan ikut berkontribusi pada pesta demokrasi selanjutnya.


Wakil rakyat yang gagal dalam meyakinkan masyarakat akan tanggung jawab yang telah diberikan akan tak disenangi lagi oleh masyarakat, sebab kepercayaan yang telah diberikan masyarakat kepada wakil rakyat tak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Pada dasarnya masyarakat hanya melihat kinerja dan apa saja yang telah disalurkan wakil rakyat kepada masyarakat bukan hanya janji semata, wakil rakyat yang gagal membantu dan tak memberikan kontribusi kepada masyarakat diklaim tak lagi akan memenangkan perebutan kursi pemerintahan pada pesta demokrasi selanjutnya. Oleh: Rara Faradillah, mahasiswa akuntansi UIN Alauddin Makassar