SULSELLIMA.Com | Aktual - Objektif - Berimbang Resisi Zaman Old Vs Resesi Zaman Now, Serta Dampaknya ditengah masyarakat - SULSELLIMA.Com | Berita Sulsel Aktual - Objektif - Berimbang

Resisi Zaman Old Vs Resesi Zaman Now, Serta Dampaknya ditengah masyarakat

Sulsellima.com - Tak terasa ia Covid-19 Indonesia  sudah memasuki usia ke 10 bulan, ini merupakan pertanda bahwa adek dari virus sars sangat betah tinggal dan berbaur di indonesia. Akan tetapi perilaku virus Covid-19 membawa bencana ditengah masyarakat indonesia kenapa saya katakan demikian karena kedatangannya membawa sebuah bencana yang diamana kehadirannya mampu mengobrak abrik tatanan bernegara. Tak ada yang mampu terhindar dari pengaruh negatif dari covid-19, tak terkecuali dibidang ekonomi yang dimana pada triwulan kedua dari data yang dikeluarkan bps menunjukkan pertumbahan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 5,32% (yoy). Tak berhenti di situ pada triwulan ketiga juga mengalami kontraksi sebesar 3,49% (yoy), sehingga indonesia secara otomatis resmi brgabung dengan negara-negara maju seperti amerika, jerman, korea selatan dll yang sudah berada dizona resesi sebelumnya.  Sebenarnya sudah banyak pengamat yang meramalkan indonesia akan mengalami resesi karena banyak dari negara yang notabene sebagai negara maju yang memiliki pondasi ekonomi yang kuat sudah terlebih dahulu memasuki zona resesi apalagi dengan indonesia yang notabene sebagai negara berkembang yang memiliki ekonomi yang pas-pasang dengan ini membuktikan betapa ngerinya covid-19 dengan ukurannya sakit kecil tetapi mampu melumpuhkan perekenomian indonesia. 


Sebenarnya resesi indonesia bukan yang pertama kali, sebelumnya indonesia juga pernah merasakan resesi di tahun 1998 tetapi dengan penyabab yang berbeda., diketahui bahwa krisis indonesia ini bermula pada saat negara thailand mengumumkan ketidak mampuannya membayar utang luar negerinya, dari sini kemudian berdampak pada tindakan berkelompok dari kerakteristik macan asia timur seperti thailand, Indonesia, Malaysia dan Korea Selatan kemudian membentuk besarnya pimjaman atas mata uang asing , investasi investasi spekulatif pada real estate dan koreksi mata uang terhadap dollar amerika. Kemudian berdampak kepada overvaluation terhadap mata uang kelompok macan asia timur seiring meningkatnya tinkat harga domestik mereka. Krisis yang dialami tahun 1998 dianggap sebagai krisis multidimensi yang dimana seluruh sektor merasakan dampak dari krisis ini, tercatat pada tahun 1998 indonesia mengalami inflasi yang sangat parah sekitar 70% sarta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika sangat tinggi yang mulanya sebesar Rp 2.500 menjadi Rp 17.000 per dollar amerika dan kemudian banyak dari kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk melawan krisis ini justru menjadi bumerang pada saat itu.


Kemudian apa dampak dari resesi itu 1998 ?, pada bagian sebelumnya telah dipaparkan penyebab dari krisis indonesia di tahun 1998 kemudian kita beralih kepada apa dampak dari krisis itu. Pada krisi krisis tahun 1998 itu menyebabkan katidak mampuan indonesia membayar utang kemudian tingginya harga-harga barang pada saat itu menyebabkan daya beli masyarakat itu terjadi karena tingginya  nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika.


Timbul pertanyaan baru, apa dampak dari resesi tahun 1998 dapat terulang lagi tahun ini?. Menurut saya pribadi itu mungkin saja akan berbeda dikarenakan itu disebabkan dari penyebab dari sesi, mungkin saja di tahun ini resisi tergolong ringan dari tahun 1998 namun juga memiliki dampak  yang lumayan parah bagi masyarakat golongan bawah. Ada sangat dampak yang terjadi resesi ini namun saya hanya memilih dari sedikit dari dampaknya seperti adanya penurunan pendapatan di kelompok masyarakat menengah dan bawah secara signifikan itu disebabkan adanya beberapa kebijakan dari pemerintah yang membatasi aktivitas. Dengan menurunnya pendapatan, maka dikhawatirkan jumlah orang miskin akan semakin banyak.  Adanya kebijakan dari pemerintah untuk membatasi aktivitas masyarakat kemudian timbul kerugian yang dialami pihak perusahaan karena omset penjualan turun drastis sehingga untuk mencegah kebangkrutan pihak perusahaan merumahkan sebagian karyawan atau dengan kata lain PHK. Adanya PHK berdampak pada penduduk kota yang bisa saja berkurang, tetapi sebaliknya, penduduk desa akan bertambah. Pasalnya, desa akan menjadi tempat migrasi pengangguran dari kawasan industri ke daerah-daerah karena gelombang PHK massal. Dampak selanjutnya ke depan konsumsi rumah tangga bisa saja berkuran atau bisa saja tertahan. Pasalnya, masyarakat akan cenderung mengalami proses penghematan untuk membeli barang sekunder dan tersier, sehingga masyarakat fokusnya hanya pada barang kebutuhan pokok dan kesehatan saja. yang terakhir  adanya kemungkinan konflik sosial di masyarakat berpotensi mengalami peningkatan dikarenakan ketimpangan yang semakin jauh yang dimana orang kaya tidak akan mengalami dampak secara signifikan melainkan bisa tetap  survive, selain karena aset mereka masih cukup, juga karena digitalisasi. Sementar akelas menengah rentan miskin tidak semua dapat melakukan WFH, apalagi saat pendapatan juga menurun


Penulis : Agung ( Akuntansi UINAM)

Tags :

bm
Redaksi by: SulselLima.com

Pemasangan Iklan/ Kerjasama/ Penawaran Event; Proposal dapat dikirim ke Email : sulsellima@gmail.com

Post a Comment