<
BREAKING NEWS

Praktisi Media : Momentum Ramadhan Jadi Ujian Implementasi Program Makan Bergizi Gratis

BULUKUMBA, SULSELLIMA.COM - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) adalah wujud nyata kemerdekaan Indonesia dibidang gizi. lebih dari sekedar bantuan pangan, program ini adalah investasi penting untuk masa depan generasi muda sebagai program prioritas presiden Prabowo Subianto , MBG menjadi langkah strategis membangun fondasi kokoh menuju Indonesia emas 2045.


Program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan publik selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Sejumlah kalangan menyoroti pelaksanaan program tersebut, terutama terkait variasi dan kualitas menu yang disajikan kepada para penerima manfaat di berbagai daerah.

Praktisi Media yang juga Ketua Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) Kabupaten Bulukumba, Saiful Alief Subarkah yang akrab disapa SAS, turut angkat bicara menanggapi berbagai sorotan yang muncul di tengah masyarakat. Ia menilai, sebagai program strategis nasional, MBG memiliki tujuan mulia dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi pelajar dan kelompok rentan.

Menurut SAS, momentum Ramadhan menghadirkan tantangan tersendiri dalam implementasi program tersebut.

 “Penyesuaian menu selama Ramadhan tentu harus memperhatikan kebutuhan gizi sekaligus kondisi puasa penerima manfaat. Ini memerlukan perencanaan matang dan evaluasi berkala,” ujarnya dalam keterangan yang disampaikan di Bulukumba, Sabtu (28/2/2026).

Ia menjelaskan, sorotan publik terhadap menu MBG harus dipandang sebagai bagian dari kontrol sosial yang konstruktif. Transparansi informasi, lanjutnya, menjadi kunci agar masyarakat memahami standar gizi, mekanisme distribusi, hingga kendala teknis yang mungkin terjadi di lapangan.

Beberapa laporan yang beredar di media sosial memperlihatkan perbedaan variasi menu antarwilayah. Ada yang menilai porsi dan komposisi belum sepenuhnya ideal untuk kebutuhan berbuka atau sahur. Menanggapi hal itu, Saiful mendorong pihak pelaksana agar melakukan evaluasi terbuka dan melibatkan ahli gizi dalam penyusunan menu Ramadhan.

“Program sebesar ini tentu membutuhkan pengawasan bersama. Pemerintah pusat dan daerah harus responsif terhadap masukan masyarakat agar kualitas layanan tetap terjaga,” tegasnya.

SAS juga mengingatkan agar kritik yang disampaikan tetap berlandaskan data dan tidak menimbulkan disinformasi. Ia berharap, melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaksana teknis, serta masyarakat, program MBG dapat terus disempurnakan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan secara luas.

Di akhir pernyataannya, SAS menekankan bahwa Ramadhan seharusnya menjadi momentum memperkuat kepedulian sosial dan memastikan asupan gizi masyarakat tetap terpenuhi dengan baik. Evaluasi yang dilakukan selama bulan suci ini, menurutnya, akan menjadi pijakan penting untuk perbaikan program strategis pemerintah ke depan.***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image