SULSELLIMA.Com | Aktual - Objektif - Berimbang Mengapa Orang-orang Zaman Dulu Kalau Berfoto Sambil Tersenyum di Anggap Orang Gila? - SULSELLIMA.Com | Berita Sulsel Aktual - Objektif - Berimbang

Mengapa Orang-orang Zaman Dulu Kalau Berfoto Sambil Tersenyum di Anggap Orang Gila?

JAKARTA. sulselima.com- Orang-orang yang hidup pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20, hampir semua tidak pernah tersenyum saat berfoto, hal ini berbanding terbalik diera zaman now seperti saat ini.


Fenomena tersebut ternyata sudah lumrah pada zaman dulu kala. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi orang-orang dulu tidak penah senyum saat berfoto. Berikut rangkuman 7 fakta dari berbagai sumber.


1. Senyum seperti orang gila

Selama era Victoria, tersenyum lebar sering dikaitkan dengan kegilaan. Penilaian ini berangkat dari norma sosial saat itu, yang mengamanatkan bahwa orang harus memiliki kendali atas emosinya di depan umum.


Jika tersenyum lebar saat itu, seseorang akan dinggap sedang mabuk atau gila, keduanya kualitas yang sangat tidak diinginkan pada zaman itu.


2. Pemahaman tidak boleh pamer emosi

Pada zaman dahulu, secara luas, pemahaman orang-orang tertanam bahwa apa yang ditunjukkan diruang publik lebih baik sisi diri yang tenang, dan menampilkan sesuatu yang bermartabat untuk orang-orang disekitar.


Pada waktu itu, para orangtua mendiktekan anak-anaknya bahwa tidak boleh berperilaku terlalu pamer emosi didepan umum.


Karena kenyataannya, jika seseorang tersenyum berlebihan, orang sering menduga bahwa mereka sedikit ada gangguan jiwa.


3. Tradisi fotografi postmortem

Dahulu, dalam tradisi fotografi postmortem, seseorang, anak, atau hewan peliharaan yang baru saja meninggal akan difoto seolah-olah mereka masih hidup. Dimulai pada hari-hari awal fotografi pada 1900. Kemudian perlahan tradisi postmortem itu sebagian besar hilang.


Namun, potret tetap digunakan sebagai cara melestarikan kehidupan untuk generasi mendatang. Itu sebabanya, berfoto cenderung serius.


4. Terbiasa dilukis

Orang-orang zaman dahulu terbiasa dilukis untuk mendapatkan potret diri mereka, Sehingga, pada massa perkembangan fotografi awal, orang-orang saat berfoto masih melakukan kebiasaan mereka untuk dilukis, yaitu tidak tersenyum, kecuali Mona Lisa yang masih menjadi pertanyaan besar.


5. Mahal

Pada hari-hari awal kemunculan kamera, hanya sedikit orang yang mengambil foto mereka karena mahal. Dimana Kebanyakan orang hanya difoto sekali seumur hidup, itu pun hanya orang-orang tertentu, yang berarti mereka tidak menganggap enteng acara foto tersebut.



6. Gigi jelek

Pada zaman dahulu kala,  pada abad ke-19, ada anggapan bahwa kebersihan gigi telah menjadi norma kepada setiap orang-orang bangsawan atau orang-orang kaya dikala itu.


Karena berfoto dianggap hal mahal atau langkah, maka untuk menggambarkan orang-orang yang terbaik,  seperti keluarga bangsawan atau orang-orang kaya pada zaman itu cenderung berfoto dengan gaya kewibawaan mereka, bagi yang mempunyai gigi jelek harus memasang wajah serius, menutup mulut untuk menyembunyikan gigi jelek mereka.


7. Teknologi kamera lambat

Teknologi kamera yang berkembang saat itu masih lambat, sehingga sepertinya tidak memungkinkan orang menahan senyum bermenit-menit.


Seperti diketahui, bahwa untuk menahan senyum selama beberapa detik saja terkadang itu sulit. Jadi, orang-orang memilih untuk mempertahankan wajah mereka dalam pose yang bisa mereka tahan untuk beberapa waktu, dan wajah-wajah itu biasanya lurus dan tanpa emosi. (Andi Ross Are)

Tags :

bm
Redaksi by: SulselLima.com

Pemasangan Iklan/ Kerjasama/ Penawaran Event; Proposal dapat dikirim ke Email : sulsellima@gmail.com

Post a Comment