<
BREAKING NEWS

Surat Terbuka untuk Presiden: Orang Tua Murid Soroti Kualitas MBG dan Usul Skema Tunai Saat Ramadhan

Menu MBG yang diterima siswa di sekolah satu potong kue, beberapa butir kurma, satu butir telur, dan satu kotak susu kecil
SULSELLIMA.COM - Seorang orang tua murid menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, berisi evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya menjelang bulan Ramadhan.

Dalam surat yang ditujukan langsung kepada Presiden tersebut, Akbar Putra—yang mengatasnamakan diri sebagai Orang Tua Murid Indonesia—menyampaikan apresiasi atas niat baik pemerintah menghadirkan program MBG. Ia menilai, secara gagasan, program tersebut merupakan langkah mulia untuk menjamin asupan gizi generasi penerus bangsa.

“Menjamin asupan gizi anak-anak adalah investasi jangka panjang bagi masa depan negeri,” tulisnya.

Namun di balik apresiasi itu, ia juga menyampaikan kegelisahan. Ia mengungkapkan bahwa menu MBG yang diterima anaknya di sekolah hanya terdiri dari satu potong kue, beberapa butir kurma, satu butir telur, dan satu kotak susu kecil.

“Pertanyaannya sederhana: apakah ini sudah memenuhi standar gizi yang layak untuk disebut makan bergizi?” ujarnya dalam surat tersebut.

Tak hanya soal komposisi menu, ia juga menyinggung dugaan adanya potongan dalam pengelolaan anggaran di tingkat pelaksana. Menurutnya, jika benar terdapat pemotongan signifikan dalam rantai distribusi, maka hal itu berpotensi mengurangi kualitas makanan yang diterima siswa.

“Program yang besar dan mulia bisa kehilangan maknanya jika pengawasan lemah dan pengelolaan tidak transparan. Anak-anak tidak boleh menjadi korban dari rantai distribusi yang mencari keuntungan berlebihan,” tulisnya.

Meski demikian, Akbar menegaskan bahwa dirinya tidak menolak program MBG. Ia justru berharap program tersebut berjalan sukses dan tepat sasaran. Sebagai bentuk masukan, ia mengusulkan agar selama bulan Ramadhan alokasi MBG dapat diberikan dalam bentuk uang tunai atau transfer langsung kepada orang tua atau wali murid.

Menurutnya, ada beberapa alasan yang mendasari usulan tersebut. Pertama, pola makan anak berubah selama Ramadhan sehingga orang tua dinilai lebih memahami kebutuhan gizi anak saat sahur dan berbuka. Kedua, skema transfer langsung dinilai dapat mengurangi potensi potongan dalam rantai distribusi. Ketiga, dianggap lebih efisien dan mendorong akuntabilitas. Keempat, dana yang diterima secara utuh oleh keluarga dinilai bisa lebih terasa manfaatnya.

Ia juga menekankan bahwa surat tersebut bukan bentuk serangan terhadap pemerintah, melainkan harapan agar program dapat diperbaiki.

“Jika ada celah penyimpangan dalam program MBG, maka itu bukan hanya soal makanan tetapi soal keadilan bagi anak-anak Indonesia,” tulisnya.

Surat itu ditutup dengan harapan agar suara orang tua dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah, demi memastikan kebijakan yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi generasi muda.***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image