Menteri Pertanian, Milenial Harus Berani Menjadi Petani

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Menteri Pertanian, Milenial Harus Berani Menjadi Petani

SULSEL LIMA
Saturday, 1 February 2020
Poto Tabloidsinartani.com. Mentan syahrul yasin limpo
sulsellima.com Bulukumba - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menaruh harapan pertanian pada generasi milenial. Menurutnya, milenial harus berani menjadi petani atau mendirikan startup pertanian.

"Usaha pertanian itu paling pasti untuk dilakukan. Selain untuk ekonomi, bisa juga membuka lapangan kerja. Coba bandingkan dengan usaha tambang yang membutuhkan waktu 10-20 tahun baru bisa mendatangkan hasil," ungkap Mentan Syahrul saat kegiatan 100 hari kinerja Menteri Pertanian, Jumat (31/1/2020).

Kondisi berbeda bisa diterima generasi milenial jika menggeluti pertanian, terutama startup yang bisa mendatangkan uang jauh lebih cepat.

"Hari ini kau bertanam, 100 hari kemudian kau bisa dapatkan hasilnya," tuturnya. Dirinya pun mencontohkan perusahaan startup di Pangalengan Jawa Barat yang bisa meraup omzet sampai Rp 200 juta per bulan.

seperti apa yang di lansir media TABLOIDSINARTANI.COM, Mentan Syahrul pun meyakini alasan enggannya generasi milenial untuk terjun menjadi petani karena harus berkotor-kotor ria bersentuhan dengan tanah.

 "Padahal dengan kemajuan teknologi sekarang ini bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pekerjaan," jelasnya.

Karena itu, Kementerian Pertanian selalu mendorong generasi milenial untuk kembali membuka wawasan lebih luas untuk memajukan perekonomian, utamanya pertanian.

Targetkan 2,5 juta

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof Dedi Nursyamsi menuturkan regenerasi petani  tidak luput dalam program aksi BPPSDMP sebab sebanyak 8?ri 33 juta petani di Indonesia merupakan generasi millennial.

“Mentan Syahrul menargetkan dalam lima tahun mendatang, petani pengusaha milenial mencapai 2,5 juta orang. Inilah yang harus kita ciptakan dan dilatih untuk memajukan sektor pertanian sebab generasi milenial adalah generasi penerus bangsa,” bebernya.

Prof Dedi menambahkan jika regenerasi ini bisa tercipta melalui penyuluhan, pendidikan dan pelatihan dengan sentuhan teknologi 4.0.

"Sekarang sudah banyak alsintan modern yang bisa digunakan dan diadaptasi oleh generasi milenial untuk mempermudah pekerjaan mereka," tuturnya.

Dirinya sempat menyebutkan sejumlah petani milenial yang terbukti menjadi panutan, antara lain Sandi Octa Susila (Cianjur) yang menjadi penggagas one stop shopping pertanian, Rizal Fahreza (Garut) dengan agrowisata Eptilu, Khudori (Garut) dengan pembibitan kentang dan lain sebagainya.(*)