Berburu Parpol di Tahun Politik, Bagaikan Berburu Tanda Tangang Sang Pemimpin

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Berburu Parpol di Tahun Politik, Bagaikan Berburu Tanda Tangang Sang Pemimpin

SULSEL LIMA
Sunday, 1 March 2020
-Rahmat Arsyad, SE., M.Si-Akademisi
sulsellima.com - Tahun ini salah satu daerah yang akan menyelenggarakan pilkada yaitu Kabupaten Bulukumba, kondisi ini membuat tensi politik di daerah dengan jumlah wajib pilih terbesar ke-4 di Sulawesi Selatan ini sedikit lebih tinggi dari biasanya. Hingga hari ini masing-masing calon kepala daerah masih berburu tanda tangang sang ketum parpol perihal rekomendasi usungan calon Kepala daerah.

Suasana khas jelang pesta demokrasi lima tahunan inipun mulai nampak menghiasi hampir di setiap sudut kota dan desa dari wilayah timur hingga barat, dari daerah gunung sampai pesisir ramai dijumpai potret wajah calon Bupati yang terpampang gagah lengkap dengan jargon politiknya. Jika diperhatikan banyak diantaranya merupakan wajah lama meski tak sedikit pula wajah baru.

Dari sekian banyak tokoh yang mengemuka, salah satu nama yang sering muncul dalam topik perbincangan seputar pilkada Bulukumba adalah Tommy Satria Yulianto atau akrab disapa TSY. Berdasarkan hasil survei yang dirilis beberapa lembaga survei salah satunya lembaga survei SMRC pada bulan Desember kemarin, tokoh muda yang kebetulan masih menjabat sebagai wakil Bupati ini menempati top survei calon Bupati terpopuler di kabupaten Bulukumba pun demikian halnya dengan tingkat elektabilitas yang masih jauh diatas calon-calon lain.

Bagi sebagian besar partai politik hasil survei masih dijadikan sebagai standar rujukan yang paling rasional dalam mengukur peluang calon kepala daerah yang akan diusung. Karena alasan itulah maka wajar saja jika TSY menjadi sosok yang cukup "seksi" dan menjanjikan untuk diusung partai politik pada pilkada Bulukumba tahun ini.

Dalam politik elektoral, tingkat elektabilitas sangat mempengaruhi daya tawar seseorang dalam meraih dukungan parpol apalagi jika didukung oleh kemampuan finansial dan jejaring yang kuat. Jika melihat peluang yang ada maka tidak menutup kemungkinan tim pemenangan TSY bisa saja membentuk koalisi gemuk apalagi sejauh ini TSY sudah mengantongi rekomendasi dari 2 partai politik yaitu PDIP dan PBB.

Meski demikian langkah untuk membentuk koalisi gemuk atau tidak tentu saja menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan karena tidak ada korelasi yang absolut dalam politik.

Berkaca pada Pilkada 2 tahun lalu. Di salah satu kota ada calon walikota yang memonopoli partai politik dengan harapan banyak partai banyak mesin dan tentu saja tidak ada lawan. Tapi ternyata harapan tak seindah realita, hitungan meleset dan akhirnya kalah oleh kotak kosong. Spekulasipun berkembang di tengah masyarakat terkait faktor penyebab kekalahan dramatis sang kandidat tunggal yang didukung hampir 100% kursi dewan ini baik faktor internal maupun eksternal.

Dari sisi internal, tidak adanya lawan membuat tim sukses merasa posisi diatas angin, kondisi ini membuat semangat grilya para tim kampanye turun karena sudah yakin menang, tidak ada lagi inovasi baru dalam kampanye untuk meyakinkan calon pemilih bahwa kamilah yg terbaik untuk memimpin Kota, padahal figur yang mereka usung terbilang pendatang baru dalam kanca politik lokal di kota itu. Karena kami tunggal maka tentu kami yg terbaik tidak ada yang lain, mungkin itu dibenaknya sehingga mereka cenderung meremehkan pergerakn senyap lawan yang secara de facto mereka memang tidak ada lawan.

Dari sisi eksternal, tidak ada pilihan lain yang bisa mensubtitusi pilihan rakyat dan memecah suara kotak kosong. Kotak kosong ini justru menjadi kotak penampung semua suara diluar suara si calon tunggal. Di kotak kosong itu ada suara pendukung mantan Wali Kota yang sebelumnya menjadi rival terberat sang kandidat tunggal yang gagal maju karena tersandung kasus pelanggaran kampanye, ada suara calon-calon walikota lain juga yang tidak jadi maju karena tidak punya kendaraan politik bisa jadi karena partainya "diakuisisi" sang kandidat tunggal dan mungkin saja ada juga suara-suara pembenci _(hatters)_ dari si calon tunggal disitu. Semua suara itu tertampung dalam satu wadah yang bernama kotak kosong yang pada akhirnya membuat kotak itu menjadi surplus suara dan keluar sebagai pemenang.

Tentu saja masih banyak faktor lain selain contoh diatas yang mungkin menjadi sebab kekalahan calon tunggal vs kotak kosong yang tak punya tim kampanye ini, namun demikian dari sini kita bisa belajar bahwa tidak ada lawan tak selamanya aman. Pada kondisi tertentu kita justru butuh lawan (kompetitor) untuk memacu semangat tim dan menciptakn inovasi serta strategi-strategi baru agar tetap eksis. Bahkan dalam dunia bisnis kadang pelaku bisnis tertentu sengaja menciptakan kompetitor yang tentu saja terukur dan terkontrol sesuai kepentingan untuk mengamankan pasar. Dalam politik kompetitor semacam ini biasanya sengaja diciptakan untuk mereduksi kekuatan lawan yang sesungguhnya.

Dalam konteks pilkada Bulukumba meskipun sangat kecil kemungkinan untuk adanya calon tunggal namun pelibatan parpol dalam tim tetaplah harus proporsional sesuai kebutuhan, selain karena alasan diatas tentu saja ini soal isi tas, _there is no free lunch_ . kebutuhan parpol haruslah terukur dan terkontrol sesuai kepentingan agar parpol dapat menjadi _problem solver_ bagi tim bukan justru manjadi _problem maker._

-Rahmat Arsyad, SE., M.Si
_Akademisi_