<
BREAKING NEWS

Frekuensi yang Menyatukan: Refleksi Hari Radio Sedunia 2026

Saiful Alief Subarkah, Praktisi Media Penyiaran
SULSELLIMA.COM - Tanggal 13 Februari kembali mengingatkan kita pada makna penting radio dalam perjalanan peradaban manusia. Sejak ditetapkan oleh UNESCO sebagai Hari Radio Sedunia, momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi atas eksistensi, tantangan, dan masa depan radio di tengah gelombang disrupsi digital.

Sebagai praktisi media penyiaran, SAS memandang radio bukan hanya perangkat teknologi transmisi suara, tetapi medium kepercayaan. Radio hidup dari kedekatan emosional. Ia menyapa tanpa wajah, namun terasa akrab. Ia hadir tanpa visual, tetapi mampu membangun imajinasi yang kuat di benak pendengarnya.

Di era banjir informasi dan algoritma media sosial, radio tetap memiliki kekuatan fundamental: kecepatan, kedekatan lokal, dan kredibilitas. Saat krisis terjadi—bencana alam, gangguan jaringan internet, atau situasi darurat—radio sering menjadi medium yang paling bertahan. Gelombang udara tidak membutuhkan kuota data; ia hanya membutuhkan penerima dan frekuensi.

Namun refleksi ini juga mengajak kita untuk jujur melihat tantangan. Generasi muda kini tumbuh dalam ekosistem digital berbasis visual dan on-demand. Jika radio ingin tetap relevan, maka transformasi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Konvergensi dengan platform digital, siaran streaming, podcast, interaksi media sosial, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi bagian dari evolusi tersebut.

Bagi saya, masa depan radio bukan tentang bertahan secara konvensional, melainkan beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya. Ruh radio adalah suara manusia yang autentik. Penyiar bukan sekadar pembaca naskah, melainkan kurator informasi, penjaga etika komunikasi publik, dan sahabat bagi pendengar.

Hari Radio Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa radio bukan medium usang. Ia adalah medium yang lentur. Dari era analog, menuju digital, dari studio konvensional hingga multiplatform, radio terus berevolusi. Yang harus dijaga adalah integritas, keberimbangan informasi, dan komitmen pada pelayanan publik.

Sebagai insan penyiaran, saya percaya: selama masih ada suara yang ingin didengar dan telinga yang ingin mendengar, radio akan tetap hidup. Bukan sekadar sebagai media, tetapi sebagai ruang dialog, pendidikan, hiburan, dan perekat sosial.***



Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image