Silaturahmi Ribuan Warga Kajang, Tomy Satria Ungkap Kisah Kenakan Passapu Saat di Korea Selatan

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Silaturahmi Ribuan Warga Kajang, Tomy Satria Ungkap Kisah Kenakan Passapu Saat di Korea Selatan

SULSEL LIMA
Wednesday, 2 September 2020
sulsellima.com Bulukumba- Masyarakat Indonesia telah mengetahui, salah satu identitas Budaya Kabupaten Bulukumba adalah 'Passapu' yang dikenakan masyarakat adat Ammatoa Kajang untuk menutup bagian kepala.
Selain 'Passapu' masyarakat adat Kajang juga mengenakan pakaian hitam-hitam. Baik digunakan untuk sehari-hari begitu pula saat resepsi tertentu. Bahkan, telah banyak digunakan oleh warga Bulukumba untuk menghadiri acara tertentu meski berada di luar Bulukumba.

Salah satu orang yang pernah mengenakan pakaian hitam dan Passapu' saat berada di Luar Indonesia yaitu, Tomy Satria Yulianto, wakil Bupati Bulukumba.

Kala itu, Tomy Satria menjadi salah satu delegasi Indonesia pada Sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO pada 4-9 Desember 2017. Pinisi saat itu ditetapkan sebagai warisan dunia, yang dimiliki Kabupaten Bulukumba.

Tomy Satria menghadiri sidang tersebut dengan mengenakan baju adat Ammatoa Kajang lengkap dengan penutup kepalanya (passapu) di Pulau Jeju, Korea Selatan.

"Saya adalah pria keturunan kajang, keluarga saya dari bapak saya Puang Sangkala itu dari Kajang. Sebagai wujud kecintaan itu saya membuktikannya saat mengikuti Sidang di Korea Selatan. Saya memperkenalkan ke masyarakat dunia, jika pakain yang saya kenakan adalah pakaian Adat di kampung halaman saya,"Ujar Tomy Satria saat silaturahmi dengan ribuan warga Kajang di Lapangan Lembanna, Rabu (2/9/2020).

Kata Tomy Satria, sebagai pria berdarah Kajang yang memegang erat budaya dan  prinsip 'To Kamase-masea', hal tersebut meski dijadikan motivasi, untuk mencintai Kajang. " Tomy Satria selalu ada di Kajang, banyak cinta disini. Saya keluar masuk di sini, (Di Kajang). Karena ini bagian dari diri saya. Banyak bertemu dengan masyarakat Kajang," Ujarnya.

Tomy Satria bercerita jika pakaian hitam dilengkapi Passapu di kepalanya, berhasil menyita perhatian banyak orang yang hadir pada sidang itu. Bahkan banyak yang memintanya untuk berswafoto.

“Pilihan memakai baju adat Kajang selain karena dalam darah saya ada darah Kajang juga sebagai momentum memperkenalkan budaya Kajang di mata dunia saat itu”, ujar Tomy, diiringi tepuk tangan warga.

Tomy menegaskan bahwa pakaian adat itu warisan dari nenek moyang dan telah turun-temurun diwariskan, maka budaya haruslah dijaga dengan baik.(*)