SULSELLIMA.Com | Aktual - Objektif - Berimbang Zakiah Aini Ditembak Mati dengan Narasi Terorisme, Ini Kata Ahmad Khozinudin - SULSELLIMA.Com | Berita Sulsel Aktual - Objektif - Berimbang

Zakiah Aini Ditembak Mati dengan Narasi Terorisme, Ini Kata Ahmad Khozinudin

 


لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ


"Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.”

(HR. An-Nasa’i)

JAKARTA, SULSELLIMA.com -  Kapolsek Ciracas Kompol Jupriono dikabarkan mendatangi rumah keluarga Zakiah Aini (ZA) dan memberikan bantuan sembako. Keluarga Zakiah ini tinggal di Gang Taqwa RT3/10, Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Jum'at (2/4/2021).

Kedatangan Polisi dan pemberian itu diklaim sebagai usaha untuk menghibur dan menghilangkan rasa kesedihan keluarga ZA. Polisi juga berusaha untuk berkomunikasi dan memberikan dukungan.

"Kami ingin keluarga ZA untuk kembali bermasyarakat dan memastikan tidak ada pengucilan dari warga," kata Jupriono.

Sementara itu, Keluarga Zakiah memilih tak melayani wartawan. Ayah dan ibu Zakiah tak mau diwawancarai awak media yang sudah menanti.

Lanjut Ahmad Khozinudin (Sastrawan Politik) ia katakan, "Nyawa Seorang Muslim Hanya Dihargai Dengan Sembako"

Ini adalah peristiwa langka, biasanya pasca eksekusi terduga Teroris kepolisian sibuk mengekspose peristiwa versi polisi, dan melupakan keluarga Korban. Dampaknya, keluarga korban menjadi terkucil karena telah dihakimi oleh opini yang bersumber dari release yang dikeluarkan kepolisian.

"Bahkan, kadangkala keluarga ada yang dikait-kaitkan. Ikut disudutkan, tanpa ada pembelaan. Publik menjadi terkondisi mengalienasi keluarga, sebagai dampak langsung dari pemberitaan yang tidak berimbang, yang hanya bersumber dari kepolisian.

"Kali ini kepolisian mendatangi keluarga dan memberikan sembako. Padahal, semestinya bukan sembako yang diberikan. Tetapi perlindungan terhadap nyawa yang di mata Allah SWT, lebih besar nilainya ketimbang dunia dan seisinya.

Apalagi, pembunuhan itu tidak berdasarkan alasan yang hak. ZA ditembak mati, dalam status Terduga, bukan berdasarkan putusan pengadilan. ZA kemudian dikaitkan dengan narasi sepihak dalam isu terorisme.

Lanjutnya, ZA sama seperti 6 Syuhada FPI, ditembak mati sebelum diadili. Pada kasus ZA lebih parah lagi, sebab seorang ZA tak mungkin menimbulkan ancaman yang mengerikan bagi institusi sekelas Polri apalagi di Mabes, yang punya kemampuan untuk melumpuhkan tindakan ZA.

Tanpa tembakan melumpuhkan, ZA di tembak mati. ZA telah direnggut nyawanya, yang belum tentu dia yang bersalah. Bagaimana jika ZA dalam kendali orang lain ? dalam ancaman yang mengharuskan dirinya melakukan tindakan konyol itu ? dalam kendali hipnotis, sehingga tindakan konyol, berupa seorang perempuan berani nekat menyerang Mabes Polri hanya seorang diri dan dengan senjata airsoft gun ? benar-benar konyol dan tak masuk akal.

Sekarang, keluarga yang kehilangan anggotanya, orang tua yang kehilangan anaknya, mau dihibur hanya dengan sembako ? Sekarang, setelah menembak mati, keluarga diharapkan mengikhlaskan nyawa anaknya ?

Apalagi, bukan hanya kehilangan anak, cara kematian yang mengenaskan ditembak mati dengan narasi terorisme yang entah seperti apa kebenarannya. Semua sumber hanya dari kepolisian. Semua korban yang dilabeli teroris, telah mati sehingga tak bisa dimintai keterangan dan klarifikasi atas tuduhan teroris itu.

Dahulu, ketika Siyono tewas ditangan Densus 88, kepolisian juga datang membawa uang Rp. 100 juta, untuk meminta maaf atas hilangnya nyawa seorang muslim. Sekarang, kepolisian hanya membawa sembako. Begitu murah kah nyawa seorang muslim


Oleh: Ahmad Khozinudin (Sastrawan Politik)

Report : Andi Ross

Editor : Red1

Tags :

bm
Redaksi by: SULSELLIMA

Pemasangan Iklan/ Kerjasama/ Penawaran Event; Proposal dapat dikirim ke Email : sulsellima@gmail.com

Post a Comment