Safwan Ma’arif Dirikan Dapur Darurat, Hangatkan Harapan Korban Kebakaran Terang-Terang Bulukumba
BULUKUMBA, SULSELLIMA.Com - Asap kebakaran mungkin telah reda di Kelurahan Terang-Terang, Kabupaten Bulukumba. Namun bagi puluhan warga yang kehilangan tempat tinggal, luka dan kecemasan masih terasa nyata.
Di tengah suasana itu, secercah kehangatan hadir dari sosok Safwan Ma’arif, Ketua Asosiasi Mitra MBG Kabupaten Bulukumba. Pada Kamis (5/3/2026), ia datang langsung ke lokasi kebakaran, tidak sekadar membawa bantuan, tetapi juga membangun dapur darurat untuk menguatkan para korban yang terdampak.
Kehadiran dapur sederhana itu menjadi tempat berkumpul, menghangatkan tubuh sekaligus hati bagi 64 jiwa korban kebakaran yang kini bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Sejak pagi, berbagai bantuan sebenarnya telah berdatangan dari lembaga sosial, relawan, hingga masyarakat sekitar. Bantuan berupa sembako, pakaian, dan uang tunai terus mengalir kepada warga yang terdampak.
Namun bagi Safwan Ma’arif, bantuan tidak selalu soal jumlah. Kehadiran dan perhatian langsung, menurutnya, menjadi hal yang tak kalah penting.
Dengan wajah penuh semangat, ia bersama beberapa relawan mendirikan dapur darurat di sekitar lokasi kebakaran. Dari dapur sederhana itulah, air panas, kopi, teh, hingga mi instan disiapkan untuk warga.
Sambil berjalan dari satu tenda ke tenda lainnya, Safwan menyapa warga yang masih berusaha menenangkan diri setelah kehilangan rumah dan barang-barang mereka.
Ia lalu mengajak mereka berkumpul di dapur darurat untuk sekadar menikmati minuman hangat.
“Saya hadir di sini bersama beberapa relawan untuk melayani warga walaupun alakadarnya,” tutur Safwan Ma’arif saat ditemui di lokasi kebakaran.
Ucapan itu sederhana, namun kehadirannya memberi arti bagi warga yang sedang menghadapi masa sulit.
Bagi para korban, dapur darurat itu bukan sekadar tempat memasak. Ia menjadi ruang kecil yang menghadirkan rasa normal di tengah situasi darurat.
Air panas, kopi, dan teh menjadi kebutuhan sederhana yang sangat berarti bagi para pengungsi.
Salah satu warga sekitar bernama Anggi mengaku sangat bersyukur dengan adanya dapur darurat tersebut.
Menurutnya, dapur kecil itu memberi kenyamanan di tengah kondisi yang serba terbatas.
“Saya berterima kasih kepada Pak Safwan dan relawan karena adanya dapur ini,” tuturnya sambil tersenyum.
Bagi warga yang telah beberapa hari mengandalkan nasi bungkus dari bantuan, keberadaan dapur darurat juga memberi alternatif lain.
Dengan logat khas daerah, Anggi menyampaikan harapan sederhana kepada para relawan.
“Iyye om, itumi saja kasihan utamakan air hangat iyye karena masa mau makan nasi bungkus terus,” ujarnya.
Permintaan sederhana itu langsung disambut hangat oleh relawan yang terus menyiapkan air panas bagi warga.
Peristiwa kebakaran di Kelurahan Terang-Terang menyisakan duka mendalam bagi warga. Beberapa rumah dilaporkan hangus terbakar, memaksa puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal.
Namun di balik musibah tersebut, solidaritas masyarakat Bulukumba justru terlihat semakin kuat.
Relawan, komunitas sosial, hingga masyarakat umum datang bergantian untuk memberikan bantuan.
Kehadiran dapur darurat yang didirikan oleh Safwan Ma’arif dan relawan menjadi salah satu simbol nyata kepedulian itu.
Di tengah keterbatasan, secangkir kopi hangat atau teh sederhana mampu menghadirkan kehangatan yang sangat berarti.
Setidaknya, langkah kecil yang dilakukan Asosiasi Mitra MBG Kabupaten Bulukumba telah membantu meringankan beban para korban kebakaran.
Di antara tenda-tenda pengungsian dan puing-puing bangunan yang tersisa, dapur darurat itu kini menjadi titik harapan—tempat di mana warga bisa kembali tersenyum, walau sebentar.***