Opini : Turbulensi Industri Film

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Opini : Turbulensi Industri Film

SULSEL LIMA
Wednesday, 21 October 2020

Sulsellima.com - Tahun 2020 menjadi tahun yang penuh perjuangan bagi penduduk dunia. Kemunculan sebuah makhluk kecil tak kasat mata dari sebuah daerah di China, menggemparkan dunia sebab telah tembus kurang lebih ke 216 negara. Hal tersebut tak ayal membuat Corona Virus Disease atau kerap disapa dengan Covid-19 menjadi pusat perhatian seluruh dunia.


 Virus ini menjadi momok menakutkan bagi semua orang, bukan hanya karena akibat yang ditimbulkan, melainkan juga karena ia tak nampak oleh mata telanjang. Terlebih lagi virus ini dapat hidup atau bertahan lebih dari 10 menit di permukaan termasuk tangan. Hal yang sangat rentan, mengingat kita sebagai manusia tentunya menyentuh berbagai benda dalam beraktivitas sehari-hari.


Wilayah Indonesia tentunya tidak luput menjadi daerah penyebaran Covid-19. Awal Maret kemarin menjadi penanda lahirnya Covid-19. Oleh karena ukurannya yang begitu kecil dan penyebarannya yang tergolong sangat mudah, membuat kondisi penyebaran virus tak terelakkan. Keadaan ini membuat masyarakat resah sehingga pemerintah mengambil cepat guna memutus rantai penyebaran virus. 


Akan tetapi, yang selanjutnya membuat Pemerintah bekerja lebih keras adalah bahwa kasus dari virus ini melonjak secara drastis dan membuat Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan yakni himbauan untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah. Dari keadaan inilah, beberapa wilayah kemudian menerapkan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


Oleh karena kebijakan PSBB ini, banyak usaha diperkiran mengalami penurunan bahkan terpaksa pailit serta membuat perekonomian menjadi anjlok. Pada akhirnya, Pemerintah kembali membuka pembatasan tersebut dengan syarat menerapkan prosedur Normal Baru atau akrab disapa New Normal. Prosedur ini mewajibkan agar seluruh masyarakat menerapkan protokol kesehatan 3in1 yaitu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, rajin mencuci tangan, dan menerapkan jarak fisik antar individu.


Jarak fisik atau physical distancing/social distancing inilah yang akhirnya membawa permasalahan baru di masyarakat, yakni adanya larangan berkumpul lebih dari 10 orang dalam satu ruangan, serta tidak diperbolehkan adanya kerumunan massa didalamnya. Hal ini sebagai cara pencegahan penularan Covid-19. Salah satu lini kehidupan yang paling berdampak terhadap kebijakan ini adalah industri perfilman. Bak halilintar di siang bolong, industri film baik dari segi produksi maupun penayangannya di bioskop mengalami setruman hebat yang tidak disangka dan tidak diinginkan oleh para pegiatnya. 


Sebagaimana kita ketahui bahwa kegiatan operasional dari bioskop tentu mengundang kerumunan orang begitupula dengan proses produksi yang membutuhkan banyak tenaga kerja berupa kru.


Padahal sebelum pandemi, pertumbuhan industri film sedang melejit di angka 20 persen pertahun. Industri film bagaikan bunga yang baru bersemi untuk menebarkan aromanya.  Melalui beberapa penelusuran, sebenarnya dalam hal proses produksi, kegiatan perfilman tidak benar benar terhenti, sebab beberapa pegiat film masih gencar untuk melakukan proses praproduksi dan menyelesaikan skenario film sambil tetap meraba serta meramal kapan pandemi akan berakhir.


Memang sangat disayangkan bahwa kegiatan perfilman terutama berhentinya bioskop beroperasi mengundang banyak  kesedihan dan rasa kehilangan dari para penikmat tayangan layar lebar. Namun apa mau dikata, membuka kembali bioskop sama saja dengan mengundang penularan corona lebih besar lagi. Jika tidak secara hati-hati, bioskop bisa menjadi kluster penularan Covid-19 yang paling berbahaya sebab aktivitas didalamnya melibatkan banyak orang. Hal ini akan membuat Indonesia berada lebih lama dalam kubangan lumpur Covid-19.


Pemberhentian operasi bioskop ini pula, membuat beberapa bioskop terpaksa merumahkan pekerjanya. Tidak terkecuali pada produksi film yang merumahkan krunya akibat tidak adanya proses syuting yang dilakukan. Meskipun kemarin sempat terdengar desas desus bahwa pekerja seni mendapatkan perhatian khusus dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) yakni adanya bantuan berupa jaminan sosial yang ditujukan kepada pekerja seni terdampak pandemi. Namun, kabar ini masih simpang siur belum ada kejelasan.


Beberapa pegiat film, mengatakan pandemi ini sebenarnya bukan jadi penghalang dalam berkarya, justru menjadi tantangan bagaimana tetap produktif di keadaan yang terbilang terbatas seperti saat ini. Di titik inilah, kreativitas seorang pekerja seni diuji bagaimana tetap eksis dan tetap bertahan meski belum diketahui kapan berakhirnya. Salah satu dari mereka mengutarakan bahwa pandemi memang memberikan beberapa batasan, tetapi juga memberi banyak kesempatan, selama kita mau menggalinya.


Meskipun pada beberapa daerah telah dilonggarkan untuk pembukaan kembali bioskop, tetapi tentunya masih ada pembatasan untuk pengunjung sebesar 25 persen dari biasanya. Namun, tantangan yang utama sebenarnya bukanlah kebijakan New Normal, akan tetapi bagaimana menggaet masyarakat untuk bisa kembali menonton bioskop. Apalagi mengingat bahwa menonton bioskop bukanlah suatu kebutuhan primer saat ini, terutama bagi yang memang hobi menonton film namun tergolong dalam ekonomi menengah ke bawah.


Di samping itu, pilihan untuk menonton film dari rumah juga sudah banyak. Baik itu film-film lokal maupun luar negeri, namun kembali lagi kepada manusia sebagai makhluk sosial yang butuh hiburan dunia nyata tentunya bioskop akan tetap memiliki tempat tersendiri dihati dengan bayang-bayang menonton sebuah karya dengan tatanan visual yang baik, audio yang mumpuni, dan suasana yang nyaman.


Industri filmnya memang akan selalu ada, namun bisa saja bioskop hanya akan jadi kenangan dari masa sekarang untuk masa depan. Meskipun itu hanya sekadar kemungkinan, namun kemungkinan yang lain masih ada asa bahwa bioskop akan tetap jadi pilihan dalam melakukan perkumpulan baik itu reunian ataupun refreshing bagi keluarga atau berkumpul bersama teman dan gebetan.


Beberapa alternatif yang bisa menjadi pilihan selain menonton film dari rumah, adalah dengan membuka layanan drive in theater atau drive in cinema. Dimana penonton bisa menikmati film dari dalam kendaraan/mobil mereka tanpa harus melakukan kontak fisik dengan penonton lain. Meskipun hal ini bukan sesuatu yang baru, namun bisa saja diterapkan di masa seperti sekarang ini, untuk mengobati kerinduan bagi para penikmat layar lebar untuk menonton biskop.


Sekali lagi, protokol kesehatan ini bukan hanya sekadar himbauan. Ia adalah kesadaran yang harus mendatangkan kebutuhan bahwa menjaga diri dari Covid adalah memerhatikan protokol kesehatan dengan tetap waspada dan mawas diri. Pembatasan mungkin telah berakhir, tetapi wabah belum berakhir. Tetap galakkan protokol 3in1 dimanapun kita berada, sebab wabah masih ada dan mengintai. Stay safe, stay healthy.


Penulis : Rizka Amaliah (mahasiswi Akuntansi UIN Alauddin Makassar)